Di zaman serba digital ini, manusia dihadapkan dengan perkembangan teknologi dan mau tidak mau harus hidup dan berkembang dalam dunia maya. Hal yang paling dekat dengan kita adalah group chat. Pada hari ini,mungkin hampir semua orang punya group chat, terutama wanita dan ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok pengembangan diri, bisnis, keluarga dan sangat banyak jenis dan tujuan dari terbentuknya sebuah group chat.

Kita bertemu, berteman, belajar dan melakukan berbagai kegiatan di dalamnya. Perlahan kita pun mulai mengenal berbagai jenis kepribadian dari member group yang kita fokuskan. Sebut saja pada sebuah group pengembangan diri, baik itu perkenalan yang terjalin melalui group, maupun privat chat. Entah karena urusan tertentu, atau sekedar berteman. Dari itu semua tidak jarang muncul sebuah penilaian pada seseorang maupun kelompok, di dalamnya.

Ada kasus seperti ini, pada sebuah group yang telah disebutkan, ada seseorang yang mendominasi, tapi ia bukan ketua, namun cukup berpengaruh karena kedekatannya dengan ketua/koordinator. Pada suatu waktu ia mengeluarkan kebijakan yang disebabkan oleh kedisiplinan group yang semakin menurun dan member yang rata-rata menjadi silent reader. Ia menggiring ketua untuk menyetujui sarannya dalam menetapkan nominal denda jika ada member yang tidak mengikuti peraturan. Namun sayangnya saat hal tersebut diputuskan, member lain hanya ikut dan menyetujui saja, padahal nominal yang ditentukan cukup besar.

Seorang member (sebut saja A) yang tadinya aktif namun sekarang menjadi SR, memberontak dalam diam. Kesal dan jengkel sekali pada keputusan tersebut, namun ia tak kuasa berpendapat dan sudah malas melihat beberapa orang menyetujui keputusan tersebut setelah didesak. Rasa kesal yang luar biasa memperkuat niatnya untuk keluar group, namun sayang juga, karena group tersebut sebenarnya bermanfaat untuk pengembangan diri. Akhirnya ia coba bertanya pada sebagian member lainnya melalui privat chat. Namun ternyata mereka juga tidak setuju dengan keputusan tersebut. Tapi kenapa mereka diam saja, bahkan mengatakan setuju saat digroup?

Apakah mereka tertekan? Atau hanya si A saja yang berlebihan menanggapi keputusan ini? Namun si A juga cuma bisa diam. Ada apa dengan si A?

Si A masih berusaha memahami dan berusaha tidak gegabah memilih exit group. Bukan nominal uangnya yang jadi masalah, tapi kenapa orang-orang menjadi pasif di depan, namun agresif di belakang? Apakah  memang tidak dibenarkan untuk menjadi asertif???

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang yang suka mendominasi. Hanya disayangkan jika sikap lupa diri selalu dipelihara sehingga tanpa disadari bisa merugikan dan melukai persaan orang banyak.

Like