Disclaimer: Tulisan berikut ini tentang “siapa sih Allah?” adalah satu tema yang ditentukan oleh mba Ulfa sebagai pemenang arisan rumbel menulis IIP Batam, sejujurnya bagi saya, ini bukan tema yang asal dan sama sekali tidak bisa dibuat gampang. Jadi, pada tulisan kali ini saya hanya akan membahas bekal apa saja yang perlu saya persiapkan untuk mendidik anak tentang keesaan Allah, karena pada saat ini anak saya masih berusia 16 bulan.

Berbicara tentang pertanyaan mengenai “siapa Allah” langsung menggiring saya mengingat kembali skripsi seorang teman dengan judul “persepsi anak terhadap tuhan” dengan menggunakan metode kualitatif. Kemudian tema ini juga sudah terlebih dahulu dibahas oleh beberapa peneliti dari Universitas UGM.  Pada intinya, anak-anak yang menjadi subjek penelitian dengan rentang usia 3-5 tahun memiliki persepsi yang cenderung abstrak karena memang mereka tidak memiliki referensi kongkrit tentang Allah. Agar pembahasan penelitian ini tidak terlalu panjang, maka silahkan teman-teman membacanya di sini.

Berhubung anak saya masih berusia 16 bulan dan belum bisa diajak berbicara 2 arah, maka saya aksn berfokus pada bekal yang harus saya miliki hingga saya siap ketika tiba masanya anak saya mulai bertanya tentang siapakah Allah? Saya juga menangkap bahwasanya tema ini bertujuan untuk menegaskan pada masing-masing peserta rumbel menulis mengenai sejauh mana kita sudah mengajarkan tauhid kepada anak-anak. Tidak terkecuali pada anak saya yang masih berusia dini.

Penanaman nilai tauhid pada anak sejak usia dini amatlah penting karena pada usia tersebut gelombang otak mereka berada di zona alfa, di mana memberikan stimulus maupun input pada otaknya akan lebih mudah,  termasuk pengajaran tauhid sejak usia dini. Berdasarkan pengalaman beberapa teman serta berbagai sumber bacaan, pengenalan anak terhadap Allah kebanyakan dimulai pada usia 2-3 tahun karena pada usia tersebut sebagian besar anak sudah bisa diajak berdiskusi dan berbicara 2 arah, jadi lebih memudahkan orang tua untuk memberi pemahaman tentang Allah kepada anak-anak mereka.

Salah satu sumber yang saya gunakan untuk memenuhi tugas arisan dalam tema ini adalah salah satu ceramah ustadz Khalid Basamalah, mengenai pendidikan tauhid untuk anak usia dini. Apa yang patut orang tua sampaikan ketika anak mulai bertanya tentang Allah:

  1. Jelaskan sejujurnya siapa Allah (jika kita ingin melihat Allah, maka kita harus masuk syurga dahulu, karena Allah menjanjikan hambanya di dalam syurga agar boleh melihatnya setiap pagi dan sore hari. Ini adalah nikmat yang jauh lebih nikmat daripada nikmatnya syurga. Lalu tugas kita adalah membimbing anak untuk belajar agama, mencintai Allah hingga misi hidupnya adalah syurga.
  2. Sertakan setiap kegiatan kita dengan Allah di dalamnya. Ketika sakit kemudian sembuh, tanamkan pada diri mereka bahwasnnya Allah lah yang menyembuhkan.
  3. Ajak anak mempelajari ayat kauniyah melalui keindahan alam semesta yang ada di sekitar kita. Mulai dari bumi yang kita pijak, tanah, pohon-pohon dedaunan, buah-buahan, air dan binatang seperti ayam, kucing, ikan, termasuk pula tubuh kita dengan segala kelengkapannya, mata, hidung, telinga, kaki, dan semua hal tersebut adalah ciptaan Allah.

Lalu bagaimana dengan anak saya yang saat ini masih berusia 16 bulan? Sebenarnya banyak kiat-kiat yang bisa diambil dari berbagai narasumber, guru, bahkan buku-buku. Nah untuk langkah awal ini, saya masih ingin menerapkan nasehat dari ustadz Khalid Basamalah, yang isi nasehat tersebut menegaskan bekal dan modal apa yang patut dimiliki oleh orang tua dalam mendidik anak-anak untuk mengenalkan mereka kepada satu-satunya pencipta alam semesta, Allah. Sumber nasehat tersebut bisa dilihat di YouTube dengsn judul terkait, namun saya akan membaginya pada beberapa poin agar saya sendiri mudah memahami dan mengaplikasikan, serta harapan saya agar teman-teman pembaca juga memperoleh manfaatnya.

  1. Jangan pernah bandingkan tolak ukur kemampuan anak dengan orang tuanya. Memang saat ini ia masih sangat kecil, namun jangan pernah mengira ia sebanding dengan kita. Tidak. Jika kemampuan kita terbatas, bisa jadi kemampuan mereka menembus batas. Maka yakinlah bahwa ia mampu menyerap seluruh ajaran yang diberikan, dengan sangat baik.
  2. Selalu fokus pada pendidikan agama. Agama adalah pondasi dasar yang musti diajarkan sedini mungkin karena hatinya yang masih bersih akan lebih mudah menerima didikan agama.
  3. Agama harus ditalaqqi (bertemu/belajar secara langsung dengan guru), bukan dengan otodidak. Ini adalah bekal wajib bagi orang tua. Jangan pernah mengira dengan hanya membaca buku kita bisa memahami agama dengan baik bahkan sempurna. Kita membutuhkan guru. Maka dari itu mulailah mencintai majelis ilmu.
  4. Buat mereka mencintai majelis ilmu. Tumbuhkan rasa cinta anak-anak pada majelis ilmu agar ruhiyah keluarga senantiasa terjaga sehingga lebih mudah bagi kita untuk mengenal Allah serta mengenalkan Allah kepada anak-anak (ma’rifatullah).

Saya tidak memiliki ilmu yang mumpuni dalam hal ini. Saya mohon ampun kepada Allah sekiranya dalam tulisan ini terdapat banyak kekeliruan dan kesalahan. Saya harapkan pula kritik yang membangun dari teman-teman. Silahkan berkomentar.. Terimakasih…

Like
1