“ANAK”

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu. Mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu.

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu. Karena mereka memiliki fikiran mereka sendiri. Engkau bisa merumahkan tubuh2 mereka, tapi bukan jiwa mereka. Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi. Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan cuba menjadikan mereka sepertimu. Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu.

Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan.

Sang pemanah telah membidik ke arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh. Jadikanlah sang tarikan tangan itu sebagai kegembiraan. Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

“Kahlil Gibran”

Puisi di atas bagi saya sangat dalam dan benar-benar mewakili arti bahasa cinta. Menyadarkan tentang bagaimana seharusnya kita sebagai manusia, mengingatkan kembali bagaimana peran kita sebagai orang tua. Karena, tidak semua orang mampu berbicara dalam bahasa cinta. Entah pula dengan saya.

Bagi saya pula, cinta adalah suatu bentuk emosi yang mewujudkan rasa senang, nyaman, hangat, bahagia dan berbagai bentuk perasaan baik yang bisa saja berbeda pada setiap orang dalam mengartikannya. Bahasa cinta atau disebut juga bahasa kasih adalah cara terbaik untuk membuat anak-anak mengerti dan memahami cinta yang diberikan oleh orang tua.

Seberapa penting bahasa cinta ini kita hadirkan di setiap sisi kehidupan, terutama bagi anak-anak? Sangat penting, karena tidak semua anak bisa benar-benar merasakan cinta jika hanya diungkapkan dengan kata-kata. Maka dari itu penting bagi orang tua untuk mengisi ruang-ruang di dalam hati ananda dengan penuh cinta setiap hari, setiap saat. Karena jika relung jiwanya itu penuh cinta, maka tubuh mereka akan menyerapnya menjadi kekuatan dan energi untuk menjalani hidup mereka dengan bahagia, serta mengantar mereka menjadi dewasa dengan sebaik-baiknya.

Bagaimana wujud bahasa cinta itu dan bagaimana pula cara memberikannya? Gary Chapman, Ph.D & Ross Campbell, M.D mengemukakan mengenai adanya 5 bahasa cinta atau bahasa kasih terhadap anak-anak. Pada dasarnya ada lima cara anak dalam mengutarakan serta memahami wujud cinta, yaitu: Sentuhan Fisik, Kata-kata penegasan, Waktu berkualitas, Hadiah, Layanan.

Saya memiliki anak laki-laki yang saat ini berusia di bawah 5 tahun, dan menurut Gary, pada usia tersebut kita belum bisa menentukan satu bahasa kasih dominan, namun akan kian terlihat seiring dengan bertambahnya usia. Dengan demikian yang harus saya lakukan adalah menerapkan kelima cara tersebut pada anak saya, karena memenuhi kebutuhan cinta adalah dasar dari seluruh aspek kehidupan, maka saya mesti memenuhi hatinya (baca: tangki emosional) dengan sepenuh cinta. Tangki yang selalu penuh juga akan selalu kosong karena akan habis menjadi energi positif yang ia gunakan dalam kesehariannya. Berikanlah cinta yang tulus, tanpa syarat, tanpa pamrih dan tanpa batas. Meskipun terkadang hati kita sendiri penuh beban, ya kita adalah manusia dengan latar belakang yang belum tentu memiliki tangki cinta yang selalu penuh pada masa yang lalu. Namun bukan tak mungkin kita mampu memenuhi ruang hati anak-anak kita dengan cinta sepenuhnya.

Wujud dari 5 bahasa cinta yang saya terapkan kepada ananda, adalah:

  1. Sentuhan fisik; Memeluk dan menciumnya setiap pagi, malam, sebelum tidur, saat bangun, dan di setiap ada kesempatan, serta ketika rindu saya segera memeluknya. Rasa rindu bisa datang kapan saja, bahkan saat sedang bermain bersama.
  2. Kata-kata penegasan; Saat memeluknya, ungkapan sayang selalu mengalir begitu saja. Berterimakasih atas kehadiran dan keceriannya, senyumnya, dan apapun yang saya rasakan, saya ungkapkan dari hati yang dalam.
  3. Waktu berkualitas; Meskipun belum terlihat jelas, saya rasa Afif sama seperti ibundanya yang selalu menyukai waktu bersama yang berkualitas. Saat bermain, Afif harus memastikan bahwa saya ada di dekatnya, menemani dan memerhatikan tingkah lakunya. Ia akan kesal ketika saya pura-pura tidak menghiraukannya. Hehe..
  4. Hadiah; Afif lebih suka menentukan hadiah yang ia inginkan sendiri, seperti ketika membeli mainan, ia memilih sendiri apa yang ia suka dan tidak menyentuh apa yang tidak menarik hatinya. Meski demikian, saya akan terus mempelajari kesukaannya, sehingga saya mampu selalu mengikat hatinya.
  5. Layanan; Menggendong serta membantunya menggapai mainan yang letaknya tinggi, kadang ia yang meminta digendong untuk tujuan tertentu, jika hal yang ia inginkan aman, maka saya turuti dan jika tidak, saya harus lebih kreatif untuk mengalihkan perhatiannya.

Tema tulisan ini awalnya terasa berat, apalagi dengan materi yang tersedia. Tetapi setelah saya gali-gali lagi tentang tema ini sampai saya mengerti. Mata hati saya akhirnya terbuka lebar dan saya sadar betapa penting bahasa cinta dalam hidup kita. Terimakasih banyak mba Erli, yang sudah menentukan tema, sebagai pemenang arisan menulis pada rumbel menulis IIP Batam. Tema ini sungguh berharga.

Like
4