Saya termasuk orang yang sulit mengungkapkan isi hati, menceritakan, ataupun menuliskannya, apalagi dalam untaian kata-kata yang indah. Tapi sepertinya sekarang… kayaknya sih masih. Hehe. Gini, kalau diminta untuk mengungkapkannya, mungkin lidah dan jari saya agak belibet, tapi kadangkala ungkapan perasaan itu mengalir begitu saja dari dalam hati, meskipun jarang terucapkan. Namun yang mutlak pasti, saya teramat sangat menyayanginya. Teramat mencintainya.

Setiap pagi, malam, atau kapanpun, saya ambil kesempatan untuk memeluk, menggendong, mencium dan meluahkan isi hati yang dibisikkan ke telinganya. Saya sangat bersyukur dan amat bahagia dengan kehadiran buah hati kami, meskipun banyak aral melintang yang harus dihadapi.

Satu hal yang sampai saat ini belum membuat saya belum bisa benar-benar bangkit dan percaya diri, karena tidak terpenuhinya hak ananda untuk mendapat ASI ekslusif. Semua itu disebabkan oleh kurangnya bekal ketegasan serta kelemahan dalam menghadapi rintangan, sebagaimana yang pernah saya ceritakan di sini. Meskipun ia tetap mendapatkannya, namun bercampurnya ASI tersebut dengan sufor, tentu tidak bisa kemudian membuat saya bangga dan percaya diri. Kadang saya berpikir, apakah ini sepenuhnya kesalahan dan kelalaian saya? Ataukah ini takdir yang seharusnya tidak pula perlu disalahkan? Wallahu a’lam bisshawab.. Insyaallah saya akan bertanya pada seseorang yang mumpuni mengenai hal ini.

Baiklah kita kembali.

Melihat buah hati yang saat ini sedang berjalan ke-usia 1 tahun 5 bulan, sungguh sebenarnya ia sangat menyenangkan hati. Lalu apalagi yang membuat saya tidak bersyukur? Malah terkadang melihat keseharian dan gerak aktifnya yang luar biasa dan menghalangi perilaku ekstrim yang membahayakan, saya bisa lepas kendali dan meninggikan suara, padahal saya selalu berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak melukai hatinya. Sudahlah ia tidak sepenuhnya mendapat haknya, ditambah lagi memiliki ibu yang kurang pandai menahan emosi. Oh betapa iba hatinya.

Sepanjang hari bermain, dan ketika ia bosan dengan mainannya yang memang belum begitu banyak, ia mulai mencari laptop atau smartphone, dan jika ia tidak mendapatkan itu, ia minta bermain air atau keluar rumah, namun ibunya kadang terlalu khawatir dengan nyamuk yang luar biasa banyak di luar rumah, akhirnya ia menangis. Lelah bermain, lelah menangis, dan lelah dengan menanggung emosi sang ibu yang tak terungkap, malam menjelang dan akhirnya ia terlelap.

Kupandang lekat-lekat wajah polosnya, kuelus kening halusnya tanpa sadar air mata ini mengalir.

“Maafkan bunda untuk hari ini nak, jika hatimu terluka itu bukan karena perilakumu. Tapi karena bunda kurang ilmu. Kamu terlalu banyak memberikan banyak cinta, senyumanmu adalah penyembuh luka, namun yang bunda lakukan justru sebaliknya. Bunda memang masih terlalu jauh dari kesempurnaan sebagai ibu. Kamu yang sudah setia menemani bunda, sejak pertama kita tiba di sini, di kamar yang sempit, di masa yang sulit. Kamu yang hadir membawa cahaya, menciptakan tawa dan terus-menerus mengukir bahagia. Namun bundamu ini apa? Bunda berjanji sepenuh hati, sayang. Bunda akan lebih banyak belajar, sehingga bunda pantas menjadi ibumu, dan akan berusaha membuat kita menjadi keluarga bahagia. Wahai buah hatiku, terimakasih atas kehadiranmu. Ibu dan Ayahmu, teramat sangat mencintaimu.”

Terimakasih mba Juli Yasti yang telah menentukan tema “Ungkapan Hati untuk Si Buah Hati” sebagai pemenang arisan ke-tiga dari Rumbel Menulis IIP Batam. Tema ini benar-benar mengorek-ngorek isi hati saya untuk jujur mengungkapkannya mba..😆🤗

Like
2