Pict source : mindbodygreen.com

Kenapa kita harus “me time”? Dari gambar di atas, tentu sudah terlihat betapa pentingnya “me time”, terlebih jika kita berperan sebagai istri, ibu, pekerja, dan berbagai peran lain yang rentan terbentur oleh stressor. Menurut saya, hal yang harus kita lakukan untuk memperoleh me time yang berkualitas adalah manajemen waktu, sehingga kewajiban bisa terlaksana dan kita bisa menikmati “me time” dengan bebas. Bagi saya hal ini adalah penting, bahkan mungkin sangat penting mengingat bahwa sebenarnya kewajiban kita jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Saya teringat sebuah nasehat.

“Al Wajibaat Aktsaru Minal Auqat.”  -Hasan Al-Banna-

Manajamen waktu. Mengatur dan membuat jadwal keseharian, mencatat dan menempelnya di dinding semua itu sebenarnya adalah mudah, namun konsistensi menjalani peraturan tersebuat, entahlah. Saya pernah melakukannya, namun yang terjadi adalah kekacauan di mana-mana, padahal suami saya bekerja dari rumah (remote working). Kenapa hal itu bisa terjadi? Bukankah dengan suami di rumah harusnya urusan menjadi lebih mudah? Jawabannya ternyata tidak. Tetapi hal ini tidak mutlak terjadi pada tiap keluarga pastinya, semuanya kembali ke keluarga masing-masing.

Nah, kalau saya, tadinya saya sudah membuat jadwal harian, tapi hanya untuk diri sendiri, sebenarnya sudah sesuai dengan situasi kami yang saat ini memiliki anak laki-laki berusia 1 tahun 4 bulan di mana usia ini hasrat untuk bereksplorasinya semakin meninggi dan memerlukan dampingan penuh. Sementara suami saya menggunakan waktu yang ada untuk melakukan kerja remote tanpa range waktu yang ditentukan, jadilah waktu yang harusnya digunakan untuk menemani Afif bermain, justru diperebutkan untuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing, nah kalau sudah begitu pastinya ada yang “merepet”lah, yang tiba-tiba ngantuk lah, tiba-tiba minta jalan-jalan lah, dan permintaan-permintaan lain yang sudah jelas dan pasti mengacaukan jadwal yang sudah di buat. Akhirnya terjadilah kekacauan tersebut.

Kondisi demikianlah yang menuntut kami untuk lebih menyadari di mana letak kesalahan (sumber kekacauan) di dalam rumah ini? Maka kamipun berdiskusi seperti biasanya (pillow talk) dengan tema “me time” dan waktu yang kami punya. *Sok iyes banget ini mah, pake tema segala.

Hasil dari percakapan tersebut, terbentuklah kesepakatan tentang ketentuan range waktu untuk meaksanakan kewajiban masing-masing, serta hak-hak ber-me time yang bisa diraih. *Halahhhhh. Baiklah, berikut gambaran range waktu yang sudah kami sepakati, meskipun sebenarnya ketentuan ini bersifat tentative, namun tujuannya adalah untuk kebaikan bersama, dan semoga kami bisa konsisten menjalaninya.

RangePak SuamRangeBuk Iis
04.00-13.00We time (Handle Bocil+Tidur)04.00-13.00Me time + Nginem+Tidur
13.00-17.00Ngoding + me time13.00-17.00Menemani Bocil
17.00-21.00We time17.00-21.00We time + Boboin Bocil
21.00-00.00Ngoding + me time21.00-00.00Me time (bertugas + belajar)
00.00-04.00Tidur00.00-04.00Tidur

Tabel di atas hanya gambaran sederhana pembagian waktu yang sebenarnya juga tidak jarang di langgar *eh. Namum, setidaknya ada waktu-waktu yang bisa dikawal dengan tegas sehingga tidak terjadi bentrokan antara kewajiban dengan kepentingan-kepentingan yang tidak penting. Ya, demikianlah. intinya me time itu penting.

Quotes source : Pinterest

Btw, kalo dibaca ulang, tulisan ini kok kayak laporan ya? Ya sudahlah. Oh iya, ini tulisan saya persembahkan untuk mba Ofvie, pemenang arisan kedua rumbel menulis IIP Batam, sekaligus yang menentukan tema “me time” ini. Terimakasih mba Ofvie sudah membuat saya mikir berat untuk tema yang sebenarnya ga ringan, tapi tricky ini.

Like
2