Kehidupan setelah pernikahan itu kadang penuh misteri dan teka teki. Tidak selamanya pasangan bisa menentukan bagaimana dan di mana mereka akan tinggal nantinya. Seperti pengalaman kami. Awalnya, setelah menikah kami tinggal dan memulai kehidupan bersama di daerah Bogor, kemudian saya hamil dan kamipun harus lebih mempersiapkan diri.

Pada saat itu kami mulai merasakan bahwa tantangan datang silih berganti, jarak tempuh dari rumah ke kantor suami yang terasa semakin jauh, yaitu Bogor-Bintaro, kemacetan membuat waktu habis begitu saja, dan tuntutan pekerjaan semakin menekan serta masalah lain yang tidak dapat saya ceritakan. Stress perlahan mendekati, terlebih KPR yang sudah mulai terasa mencekik. Ya, tuntutan pekerjaan mulai menekan dan sindiran yang datang menciptakan suasana yang semakin tidak nyaman.


Menyadari hal itu, suamiku berinisiatif mencoba mengirimkan CV ke beberapa lowongan pekerjaan, Alhamdulillah semua menanggapi dan memberi pengharapan, dan Qadarullah ada satu perusahaan yang begitu cepat menanggapi CV tersebut. Prosesnya begitu cepat, tidak berlangsung lama interview berbuntut PR dibawa pulang.
 
“Dek, kamu mau kita tetap di Jakarta atau kita pindah ke Batam?” 
 
“Pindah ke Batam.” Padahal aku tidak tahu menahu apa yang dibicarakan suamiku, ternyata ia ditawarkan untuk bekerja di cabang perusahannya yang ada di Jakarta Utara, atau induk perusahaan yang ada di Batam.
 
Singkat cerita, akhirnya kami sudah berada di Batam tepat saat usia kehamilanku memasuki 5 bulan. Hidup ini memang penuh perjuangan, demikian pula awal mula kami menginjakkan kaki di Batam, kami belum punya tempat tinggal ataupun kendaraan, belum ada transportasi berbasis online sehingga pergi ke mana-mana mengandalkan supir kantor ataupun taksi yang jika ke tempat yang berjarak dekat pun harus mengorbankan minimum payment. Rasanya hidup di Batam boros sekali. Keterbatasan ide dan gerak itu mengharuskan kami tinggal di sebuah kamar kos berukuran 3×3 m2 selama 2 bulan, dan kemudian kami bisa pindah ke ruangan yang lebih besar namun masih di kosan dengan kondisi yang sama, tidak bisa memasak karena tidak boleh memasak di dalam kamar. Hidup terasa sangat membosankan, namun hal itu justru menjadi momen terbaik untuk dekat dengan Al-qur’an yang sangat bermanfaat untuk si kecil yang masih dalam kandungan.
 
Tidak lama tinggal di sana, Allah pertemukan kami dengan seorang ibu yang bersedia mencarikan informasi kosan yang lebih layak, dan akhirnya kami pindah ke kosan keluarga yang sebagian besar penghuninya adalah pribumi. Saya sangat lega karena saat itu pertengahan Ramadhan dan usia kandungan sudah lebih 8 bulan.
 
Kami mulai mempersiapkan diri menyambut kelahiran anak kami, tentunya sudah berkali-kali pula meminta kesediaan ibunda untuk hadir menemani anaknya yang akan melahirkan ini. Sebanyak apa saya meminta, sebanyak itu pula ibunda meminta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan saya, disebabkan kondisi yang semakin menua dan lebih sering sakit-sakitan. Rumah kontrakan sudah didapat, tinggal disetujui namun apa gunanya jika tidak ada ibu saya, jauh dari siapapun untuk dimintai bantuan ketika saya membutuhkan. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap di kosan tersebut hingga lahiran.
 
Kondisi demikian akhirnya menggiring kami ke “Plan B”, yaitu mencari ART yang sekaligus bisa memandikan bayi, karena saya mengalamai gangguan syaraf yang gejalanya hampir mirip dengan Carpal Tunel Syndrome (CTS), tepat di tulang pergelangan tangan kanan saya, sehingga beberapa hal tidak bisa saya lakukan sendiri. Pada saat itu saya belum mengetahui kalau itu adalah gangguan syaraf, sebab yang saya rasakan hanya seperti terkilir dan jika tersenggol, sangat menyakitkan.
 
HPL semakin dekat dan saya sudah mendapatkan calon ART yang ternyata juga ahli dalam mengurus ibu dan bayi pasca melahirkan, atas rekomendasi ibu kos. Saya berusaha menjalin hubungan baik dengan calon pengasuh (sebut saja bibik) agar saya bisa percaya dengannya. Meskipun ada hal-hal yang mengganjal sesingkat saya mengenalnya, namun karena ia ibu dari 2 anak, seorang janda dan tinggal tepat di sebelah kosan saya, maka saya tidak merasa perlu terlalu banyak curiga, alias terima saja, toh hanya membantu memandikan, mencuci piring, baju dan menyetrika.
 
Lama menunggu, ternyata HPL meleset dan telat 2 minggu. Saya melahirkan di usia kehamilan 40 minggu. Alhamdulillah normal dengan tindakan induksi dan vacuum. Melahirkan di sebuah Rumah Bersalin hanya berdua suami dan sempat ditemani kenalan suami (ibu penjual ta’jil langganan kami selama Ramadhan) rasanya tidak ada masalah yang berarti, karena memang keadaan inilah yang harus kami hadapi. Meski begitu saya tetap bersyukur karena sanak saudara tidak henti memberi dukungan walau hanya via telepon. Alhamdulillah meskipun perjuangan ini hanya kami lewati berdua, semua selamat berkat pertolongan Allah.
 
Hari yang dinanti telah tiba, saya sudah menjadi seorang ibu, begitu pula suami dengan peran barunya. Akan tetapi Allah tidak berhenti menunjukkan cinta pada hamba-Nya melalui berbagai macam ujian. Suamiku tidak bisa mendapatkan banyak cuti sehingga hari-hari di bulan pertama itu lebih banyak bersama bibik dan ibu kos kami. Aku baru tenang jika malam hari, karena suamiku yang menemani serta bersama begadang mengurus bayi kecil kami.
 
Kejanggalan yang tadinya kuabaikan sekarang makin terlihat. Aku tidak bermaksud menyalahkan orang lain, namun yang terjadi, ternyata mereka (bibik dan ibu kos) saling tidak menyukai sehingga saat masing-masing datang, tidak lain hanya membawa domba-domba yang siap diadu, saling menggunjing, saling iri, dan saling menjatuhkan serta menyeret diriku untuk membenci masing-masing lawannya. Apalah daya, di tengah keadaan badan yang kadang lelah dan mengantuk, mereka pun hanya menjadi stressor yang cukup kuat.
 
Ibu kos kami punya bayi yang baru berumur 5 bulan, tapi entah mengapa si bibik selalu mengatakan bahwa bayi tersebut tidak sehat, kuning, penyakitan, kurang susu, dan menurutnya semua itu karena ibunya yang memberi ASI berkualitas rendah, baru aku sadari hal tersebut sudah di-sounding berulang kali sebelum saya melahirkan, begitu pula setelah anak saya lahir. Tanpa disadari sounding negatif itu mungkin bisa menjadi energi negatif pula, kemudian terserap ke alam bawah sadar. Wallahu a’lam.

Saya mentrigger ASI terus-menerus, berusaha menjauhkan sufor, meski sudah dipersiapkan khawatir ASI saya lama keluarnya. Namun di hari kedua saya menyerah karena anak saya selalu menangis kencang karena ia masih kehausan dan akhirnya suami mengizinkan untuk diberi sufor. Sebelumnya, berbekal sedikit ilmu, kami sudah setuju untuk tidak menyiapkan sufor dan merencanakan IMD, namun saat mencari dokter dan bidan pro normal, kami lupa bahwa tidak semuanya pro IMD dan ASI. Suamiku kekeuh minta IMD, tapi tidak ditanggapi dengan jelas dan setelah melahirkan justru kami disodorkan sufor yang ternyata merupakan sponsor RB tersebut.
 
Belum lagi masukan-masukan absurd si pengasuh, sumber stressor di tengah kalut. Keadaan ini semakin menghambat produksi ASI. ASIku baru lancar di hari ke 5, rasanya teramat bahagia melihat ASI yang keluar lancar meski PD bengkak dan amat sakit. Namun entah mengapa, meskipun sudah lebih dari 1 jam menyusu, bayiku akhirnya selalu menangis kencang, seperti masih kurang. Tangisan kencang itu memancing pengasuh atau ibu kos datang dan tentunya terus menyarankan susu tambahan. Aku hanya bisa menangis di dalam hati, sambil menunggu kepulangan suami. Keadaan ini berlanjut, berhari-hari, berminggu, hingga bulan.
 
Melihat keadaan ini, suami memintaku untuk ikhlas dan menerima kenyataan bahwa anak kami tidak mendapat ASI ekslusif. Suamiku juga meminta agar aku berhenti melihat iklan booster yang memamerkan stok ASIP sekulkas penuh, meskipun ia telah membelikan breast pump lengkap dengan booster, namun ekspektasi maksimal dengan ilmu dan bekal minimal, itu justru membuat saya terperangkap dalam lingkaran setan. Keadaan demikian menuntut kami untuk segera pindah kontrakan, rencananya kami pindah jika anak kami sudah melewati usia 40 hari, dan ternyata kami baru bisa pindah saat si kecil berusia 2 bulan. 
 
Awalnya kami bingung untuk pindah, karena tidak mudah mendapat kontrakan bagus, fully furnished dengan harga aman di daerah Nagoya atau Baloi. Qadarullah, kami yang juga sudah teramat muak dengan adanya riba KPR, mencoba menawarkan rumah tersebut untuk di take over pada seorang kontraktor yang kebetulan tinggal di sebelah rumah kami, di Bogor. Alhamdulillah, dengan segala kemudahan yang Allah berikan, rumah itu terjual dan kami bebas dari riba yang mencekik selama hampir 2 tahun. Sebagian uang penjualan itu kami berikan pada Ayah mertua. Sebagian lagi untuk kontrakan yang nyaman karena kami tidak terlalu mengharapkan uang tersebut. Bebas dari setoran KPR perbulan saja itu sudah anugrah luar biasa.
 
Baik, kita kembali ke sang bayi. Meskipun asupan bayiku campuran ASI dan Sufor, aku harusnya tetap bersyukur karena bisa memberikan ASI selama 6 bulan, sebelum saya tahu bahwa derita penyakit pergelangan yang saya ceritakan di awal adalah gangguan syaraf dan saat mengkonsumsi obatnya saya tidak diperbolehkan menyusui. Ternyata obatnya sangat keras dan saya hanya meminumnya 1 kali, namun efeknya lebih dari seminggu. Efeknya seperti ketika kita berputar (seperti penari sufi) kemudian berhenti, pasti terjatuh tak tentu arah, begitulah efeknya. Setelah efek tersebut hilang dan penderitaan di tangan saya semakin berkurang Alhamdulillah, saya coba menyusui lagi, namun ternyata anak saya sudah tidak mengenal PD ibunya lagi. Dan kali ini saya tidak boleh menangis, saya harus fokus untuk MPASI.
 
Ah, cerita ini terlalu panjang jika benar-benar dirunut, saya cukupkan saja yah.
 
Pesan saya untuk pembaca dan siapa saja yang akan melahirkan di Perantauan, jangan pernah takut dan ragu jika itu memang pilihannya. Persiapkan diri, perbanyak informasi yang valid. Jika harus dengan ART, pastikan ia hanya mengerjakan apa yang harus ia kerjakan. Jika ia memberi masukan yang meragukan, cari kebenarannya. Jika khawatir soal ASI, bersegeralah ke konsultan ASI agar kita lebih “haqqul yakin”. Satu hal yang harus diyakini, setiap ibu bisa memberi ASI. Dan satu lagi… Jangan tergiur dan jangan jadikan iklan-iklan di sosial media sebagai satu-satunya referensi.
 
Tulisan kepanjangan ini persembahkan untuk mba Monique karena telah berhasil membuat saya tertantang dan berpikir panjang akan hal apa yang ingin saya tulis untuk “arisan tulisan” perdana ini. Terimakasih Rumbel IIP Batam. Semoga dengan adanya kegiatan ini saya bisa rajin menulis.
 
 


Like