Adalah di sebuah mesjid yang tiap minggunya diadakan kajian dan setiap hari ba’da shalat fardhu ada ceramah singkat dari imam mesjid. Kegiatan keilmuan di sana benar-benar terasa hidup. Setiap waktu mesjid itu selalu ramai dan terkadang tak hanya oleh masyarakat setempat, tapi jamaah dari luar daerah pun banyak berdatangan untuk mendengarkan kajian-kajian keilmuan di mesjid itu.


Ada seorang anak muda yang sangat rajin datang ke mesjid itu.Tiap minggu dia datang untuk menyimak kajian itu, hampir tidak pernah absen. Begitulah si pemuda ini terus bersabar menjalani aktivitas nya menghadiri majelis ilmu di sela sela kesibukannya yang lain.Hingga berjalan waktu 3 tahun, si pemuda yang tadinya tak tahu apa apa, akhirnya menjadi seorang yang berilmu (alim) dan faqih(faham) dengan ilmu yang dia dapat dari kajian mingguan itu. Diapun dipercaya untuk mengisi kajian di salah satu mesjid di kampungnya.

Namun di mesjid yang sama -tempat yang selalu didatangi si pemuda tadi-, ada seoran pengemis yang tiap pagi datang dan duduk di depan mesjid itu menengadahkan tangan kepada siap saja yang lewat.Setiap ada kajian di mesjid itu, dia bisa mendengarkannya tanpa harus masuk ke mesjid. Dia tetap duduk menengadahkan tangan kepada manusia. Hingga berjalan waktu 3 tahun, sama dengan waktu yang dijalani si pemuda tadi. Namun ternyata si pengemis ini tak mendapatkan apa apa dari kajian dan ceramah yang tiap saat ia dengar selama 3 tahun itu.Dia tetap seperti dulu menjadi seorang pengemis yang tak tahu apa-apa, dan tetap setia dengan aktivitas hariannya.Ketika ditanya tentang apa yang disampaikan oleh para mubaligh di mesjid itu, dia tidak mengetahuinya, seakan tak pernah mendengar kajian tersebut.

Kenapa?karena selama itu tak pernah terbetik keinginan dalam dirinya untuk menginginkan ilmu itu apalagi mempelajarinya.Kajian demi kajian hanya dia biarkan berlalu bersama angin dan dibawa oleh orang orang yang mendatangi dan meninggalkan tempat itu. Dia tak pernah mengambil manfaat dari ilmu itu. Sementara si pemuda tadi tumbuh menjadi seorang yang berilmu karena dia benar-benar menginginkan ilmu itu.

Al Ilmu la budda an yurad.

Ilmu itu hendaklah diinginkan

Ilmu itu didatangi bukan mendatangi.

Ilmu hanya diberikan bagi mereka yang “INGIN”

Wallahu a’lam


Disadur dari penjelasan Matan Tuhfah Al-Athfal yang disampaikan dalam daurah Al-Qur’an oleh Syaikh Sayyid Harun Adz-Dzahaby.

Semoga Allah membalas dengan balasan yang berlipat ganda atas ilmu yang disampaikan.
Like